Jatengkita.id – Sobat Jatengkita, pasti sudah tidak asing dengan martabak bukan ? Kalian tim martabak asin atau martabak manis? Tampilan yang menggoda, isian yang lezat, bentuknya tebal, serta lembut ketika dikunyah, siapa yang tak tergoda dengan makanan yang satu ini? Martabak punya banyak nama di berbagai daerah lho! Simak selengkapnya.
Martabak merupakan makanan yang sering dijajakan di pinggir jalan, warung, atau restoran. Varian-variannya dapat bervariasi sesuai dengan selera dan preferensi masyarakat setempat.
Martabak juga sering dijadikan sebagai hidangan yang populer di acara-acara sosial atau festival makanan.
Asal usul kata “martabak” berasal dari bahasa Arab, “mutabbaq”, yang berarti “terlipat.” Martabak awalnya adalah makanan yang terdiri dari adonan yang diisi dengan berbagai bahan, kemudian dilipat dan digoreng.
Martabak adalah sejenis makanan yang populer di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Biasanya disajikan sebagai makanan ringan atau hidangan utama, tergantung pada isian dan ukurannya. Ada dua jenis martabak yang paling umum: martabak manis (disebut juga kue bandung atau terang bulan) dan martabak asin.
Martabak Manis Vs Martabak Asin
Martabak manis terbuat dari adonan tebal yang diberi topping gula, cokelat, keju, kacang, atau selai. Adonan ini kemudian dilipat menjadi dua lapisan dan dipanggang hingga matang.

Biasanya, martabak manis disajikan dengan taburan keju parut atau susu kental manis di atasnya. Rasanya manis, gurih, dan memiliki tekstur lembut di dalamnya.
Martabak telur terbuat dari adonan tipis yang diberi isian campuran telur, daging cincang, bawang, daun bawang, dan bumbu rempah lainnya.
Adonan kemudian dilipat seperti omelet tebal dan dipanggang atau digoreng hingga matang. Martabak telur biasanya disajikan dengan saus sambal dan acar timun di sampingnya. Rasanya gurih dengan rasa rempah yang khas.
Martabak manis sendiri merupakan makanan khas Bangka Belitung yang diciptakan oleh warga keturunan Tionghoa (Hakka atau Khek).
Nama asli martabak manis adalah Hok Lo Pan, yang berarti Kue Orang Hok Lo. Pada awalnya, martabak hanya memiliki wijen sangrai dan gula, tetapi sekarang ada lebih banyak topping, rasa, dan taburan, seperti oreo cheese, red velvet, dan green tea.
Karena bentuknya yang bulat dan berwarna kuning, martabak manis atau Hok Lo Pan ini kemudian disebut kue rembulan atau terang bulan.
Di Indonesia, banyak sebutan untuk martabak manis ini selain kue rembulan. Ini disebabkan oleh fakta bahwa makanan manis ini semakin dikenal oleh banyak orang dan menyebar ke luar kota Bangka.
Di Bandung misalnya, martabak manis dikenal sebagai kue Bandung, di Pontianak, kudapan ini disebut apam pinang, sementara di Medan? kudapan ini dinamakan dengan martabak Bangka.

Sedangkan martabak asin bermula dari Ahmad bin Abdul Karim, seorang pemuda dari Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah, yang berkelana dan berdagang di Semarang pada tahun 1930.
Ia bertemu dengan pemuda India yang mahir memasak bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary. Singkatnya, mereka menjadi sahabat.
Keluarga Ahmad di Tegal menerima Moortaba, makanan India yang terbuat dari adonan terigu, dari Abdullah.
Karena makanan ini sangat disukai, mereka berdua mengubahnya untuk lebih sesuai dengan orang Jawa. Tak lama kemudian, tercipta nama martabak yang sangat berbeda dari nama asal India.
Martabak ini awalnya populer di Lebaksiu, namun seiring waktu berjalan, banyak masyarakat disana yang merantau ke beberapa kota di Jawa untuk berdagang martabak.
Martabak biasanya dijajakan pada saat ada kegiatan pasar malam. Akhirnya, makanan modifikasi dari India tersebut menjadi sangat populer dan sudah menyebar luas di Indonesia.






