Jatengkita.id – Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar nama Laksamana Cheng Ho? Apakah kalian langsung berpikir tentang bangunan-bangunan yang melekat namanya? Nama Cheng Ho memang identik dengan Masjid Cheng Ho di Surabaya dan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang. Siapa sih Laksamana Cheng Ho, simak selengkapnya!
Laksamana Cheng Ho merupakan pejuang muslim dari Tiongkok. Ia juga dikenal sebagai Zheng He atau Kasim San Bo, hidup selama Dinasti Ming (1403–1424 M).
Cheng Ho melakukan perjalanan ke Malaka pada abad ke-15. Ia banyak belajar tentang Islam dari berbagai tempat, seperti Tiongkok, Yunnan, Champa, Jawa, Melayu, Arab, dan India.

Ia membawa Tiongkok masuk ke Asia Tenggara, diikuti oleh arus penyebaran Islam yang damai. Pada saat itu, Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang dari Gujarat (India) dan Timur Tengah.
Cheng Ho telah mengunjungi banyak kota di Indonesia, termasuk Aceh, Palembang, Bangka, Sunda Kelapa, Cirebon, Semarang, Tuban, Gresik, dan Surabaya.
Di setiap kota yang dia kunjungi, dia berbagi pengetahuan dan keahliannya dengan penduduk setempat serta membantu menyebarkan agama Islam.
Adapun pelayaran Cheng Ho berlangsung antara 1405-1433, yang terbagi dalam tujuh pelayaran besar.
Salah satu pelayarannya pada 1431, sebanyak 27.550 orang mengisi kapal-kapalnya yang terdiri dari berbagai profesi, yakni ahli pelayaran, tenaga kesehatan, penulis, penerjemah, tentara dan para pelayan.
Pengaruh Cheng Ho dalam penyebaran Islam di Indonesia pun dapat dilihat dari peninggalan seperti Masjid Cheng Ho di Surabaya, Palembang dan Malang.
Cheng Ho juga berhasil memugarkan masjid yang terletak di sebelah Timur Laut Kabupaten Xian pada 1430.
Sementara itu, menurut catatan sejarah, Cheng Ho merupakan muslim yang taat, sebab ia aktif memajukan penyebaran Islam baik di Tiongkok maupun di negara-negara asing.
Sebagai seorang muslim yang saleh, Cheng Ho telah banyak mengadakan kegiatan agama Islam, baik di negerinya sendiri maupun di negeri lain.
Peran Cheng Ho di wilayah nasional maupun internasional sebagai seorang muslim yang benar dapat mengangkat nama baik agama Islam.
Mengenai muslim Tionghoa di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak abad ke-14. Pada masa pemerintahan dinasti Ming (masa kaisar Zhy) dilaksanakan politik kerukunan dan persahabatan dengan negara-negara asing.
Untuk itu, dinasti ini menugaskan laksamana kerajaan yaitu Cheng Ho untuk melakukan pelayaran ke Samudera Hindia Barat sampai ke Nusantara.
Adapun hal-hal yang ditinggalkan oleh Laksamana Cheng Ho di Nusantara sebagai berikut:
- Kapatekan
Kapetakan berada 17 km dari Pelabuhan Muara Jati (sekarang Pelabuhan Cirebon). Pelabuhan Muara Jati adalah tempat bersauhnya 307 kapal rombongan Laksamana Cheng Ho di Cirebon.
Mulanya, di tengah misi Laksamana Cheng Ho menyebarkan agama Islam di tanah Singhapura (nama awal Cirebon), rupanya tidak sedikit dari pengikutnya yang jatuh hati dengan penduduk pribumi.
Mayoritas dari mereka yang menikah dengan pribumi bermukim di daerah pesisir pantai utara. Daerah tersebut kemudian diberi nama Kapetakan yang berarti kulit putih.
Sebab, mayoritas penduduknya berkulit putih yang berasal dari perkawinan antara pribumi dan etnis Tionghoa.
Fakta linguistik “kapetakan” tersebut pun hingga kini diyakini sebagai salah satu warisan budaya Laksamana Cheng Ho
- Tradisi Nadran
Bagi yang belum tahu, ritual nadran, atau sedekah laut, adalah upacara melarungkan sesaji ke tengah laut. Ini dianggap sebagai salah satu warisan takbenda Laksamana Cheng Ho.

Nadran diadakan setiap tahun di masyarakat Cirebon. Tradisi ini juga dilakukan di berbagai tempat di Indonesia.
Budaya Nadran berasal dari akulturasi budaya Islam dan Hindu yang berlangsung sejak ratusan tahun. Nadran dibuat oleh masyarakat bukan hanya sebagai cara untuk menunjukkan rasa terima kasih atas hasil laut yang melimpah.
jangan lupa untuk memohon kepada Tuhan agar dilindungi dari bahaya dan gangguan selama mencari ikan di lautan.
- Tradisi Ngunjung
Ngunjung berasal dari kata “munjung” atau “kunjung” yang berarti mengunjungi makam leluhur sebagai wujud rasa syukur dan mendoakan.

Masyarakat mendatangi makam yang dianggap keramat dengan membawa nasi tumpeng dan masakan tradisional.
Mereka memohon keselamatan sekaligus mengingatkan pesan-pesan para leluhur kepada generasi masa kini agar terus melestarikan budaya dan tradisi mereka.
Setelah upacara inti selesai, terdapat pertunjukan wayang kulit dan tari-tarian untuk turut memeriahkan rangkaian ngunjung.
- Klenteng Sam Po Kong
Juru mudi Cheng Ho bernama Wang Jing Hong meninggal di Simongan dan dimakamkan di kawasan Kelenteng Sam Poo Kong.

Namanya juga diabadikan sebagai nama salah satu kelenteng di Kawasan Sam Poo Kong, yaitu Kelenteng Juru Mudi.
- Masjid Cheng Ho
Diresmikan pada tahun 2002 yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya.

Nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho. Dalam perjalanan di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam.
Pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Yang kemudian Laksamana Cheng Ho (Admiral Zhang Hee) atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong atau Pompu Awang pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang.
Selain itu dia juga sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.
Untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo dan warga Tionghoa muslim juga ingin memiliki sebuah masjid dengan gaya Tionghoa maka pada tanggal 13 Oktober 2002 diresmikan Masjid dengan arsitektur Tiongkok ini.






