Jatengkita.id – Jejak peradaban Islam perlahan mulai sirna pasca jatuhnya Granada yang merupakan negeri Islam terakhir di Eropa. Pasukan Ferdinand dan Issabel melanjutkan visinya membumihanguskan Andalusia melalui Reconquista atau penaklukkan kembali.
Periode Reconquista merupakan tahap mengerikan dan menyakitkan bagi kaum Muslim Andalusia. Mereka hanya diberikan pilihan berupa dimurtadkan atau diusir dari Granada atau bagi yang memutuskan bertahan dengan Islam akan dibunuh.
Mereka yang memilih mempertahankan Islam terpaksa harus melarikan diri ke Maroko, Tunisia, atau daerah Afrika Utara lainnya. Sementara ada juga yang harus sembunyi-sembunyi agar tidak dibunuh. Setiap rumah akan ditandai dengan paha babi yang digantung sebagai bukti bahwa tidak ada lagi yang beragama Islam di rumah tersebut.
Seluruh kejayaan dan peninggalan di bidang ilmu pengetahuan, sosial-politik, hingga kemasyarakatan, dimusnahkan. Gereja bersama penguasa dan bangsawan benar-benar menghilangkan jejak peradaban Islam di bumi Andalusia.
Reconquista menjadi masa kegelapan bagi kemanusiaan. Muslim Andalusia melalui banyak siksaan, penjarahan, perampasan hak, pembantaian, hingga pengusiran paksa dari tanah air mereka sendiri. Kaum Yahudi pun juga turut menjadi korban.
Kebiadaban Inkuisisi
Ferdinand dan Issabel membentuk Dewan Inkuisisi untuk memata-matai masyarakat Andalusia. Apabila ada yang menunjukkan aktivitas yang berkaitan dengan ritual keagamaan Islam, maka orang tersebut akan langsung dibunuh.
Mereka disiksa dengan berbagai penganiyaan, mulai dari minum khamr, makan daging babi, hingga penyiksaan. Bahkan, alat-alat penyiksaan itu masih bisa disaksikan sampai saat ini yang tersimpan di museum Galeria de La Inquisicion, Spanyol.

Ada alat bernama Iron Maiden, yaitu peti mati berbentuk tubuh manusia yang di dalamnya terdapat banyak senjata sangat tajam. Penduduk yang ketahuan memeluk agama Islam akan dimasukkan ke dalamnya hingga tubuhnya tercabik-cabik.
Selain itu, ada juga The Rack yang digunakan untuk menghancurkan tulang manusia. Penghancuran itu dimulai dari tulang kaki, dada, tangan, kepala, hingga seluruh anggota tubuh. Masih ada alat lainnya bernama The Pillory, The Brank, dan The Bastinado.
Petaka Bib Rambla
Peristiwa Bib Rambla terkenal sebagai tragedi pembakaran Alquran terbesar sepanjang sejarah manusia. Pada masa itu, Kardinal Francisco Ximenez de Cisneroz memerintahkan penyitaan semua Alquran dan menggantinya dengan Alkitab baru yang dikeluarkan kerajaan.
Tak hanya Alquran, semua buku karya ilmuwan Ibn Rusyd, Ibn Hazm, Az-Zahrawi, dan lainnya juga turut disita. Semuanya dikumpulkan hingga membentuk gunungan di alun-alun Bib Rambla. Lalu, pasukan inkuisitor membakarnya. Api menyala-nyala, berkobar luar biasa.
Masyarakat dipaksa untuk menyaksikannya. Tak lama setelah pembakaran, para mujahid dihujani panah. Mereka menyeruak menyelamatakan diri, namun akhirnya kalah.
Peristiwa pembakaran tersebut memperlihatkan ketakutan kaum Kristen pada Alquran. Ketakutan tersebut dikenal dengan Islamofobia di era sekarang.
The April’s Fool Day
Tepat pada tanggal 01 April 1487, pasukan Ferdinand dan Issabel menyiapkan kapal bagi para muslim yang memilih hijrah ke Afrika Utara. Mereka dijanjikan pergi dengan aman. Saat muslim sudah memastikan ada banyak kapal di dermaga, mereka membawa seluruh perlengkapan untuk dibawa pergi.

Namun, yang terjadi adalah rumah-rumah para muslim dibakar saat mereka menuju dermaga. Biadabnya lagi, kapal-kapal yang sudah diisi oleh kaum Muslim dibakar di tengah laut. Mereka yang mencoba menyelamatkan diri tidak lagi memiliki kesempatan karena pasukan salib membabi buta membunuhi kaum Muslim.
Seketika itu, daratan dan lautan berubah warna menjadi merah hitam. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Karena peristiwa ini, setiap tanggal 01 April dikenal sebagai April’s Fool Day, yaitu hari bebas untuk melakukan tipu daya kepada orang lain.
Fenomena Ziryab
Ziryab adalah namu panggung dari seniman asal Baghdad, yaitu Abul-Hasan Ali Ibn Nafi. Ia memiliki suara yang merdu seperti burung Ziryab. Andalusia menjadi pilihan tujuan pengembaraannya setelah terusir dari Baghdad.

Di Andalusia, Ziryab mengajarkan banyak hal yang bersifat hedonis. Selain syair, dendang, dan tarian, Ziryab juga mengajarkan etiket makan appetizer, main course, dan dessert. Ia menjadi pelopor tren fashion musim panas, semi, gugur, dan dingin.
Ziryab berhasil mengambil alih majelis ilmu. Ia melenakan para pencari ilmu dan membuat mereka berpaling dari kitab-kitab. Pencari ilmu lebih tertarik pada cerita aneh tentang Persia dan mengganti ayat-ayat Allah dengan dendang dan tarian. Semua pengaruh ini secara perlahan masuk tanpa disadari dan menjadi salah satu sebab kehancuran Andalusia.
Tonton video : RECONQUISTA – SEJARAH KELAM TRAGEDI & TEROR MUSLIM ANDALUSIA






