Menguak Sebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Mataram

Menguak Sebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Mataram
Kerajaan Mataram Islam (Gambar: travel.detik.com)

Jatengkita.id – Dalam narasi sejarah populer, Kerajaan Majapahit dan Mataram Islam sering kali ditempatkan sebagai simbol kejayaan masa lalu Pulau Jawa. Keduanya sering dipuji sebagai kerajaan besar, kuat, dan berpengaruh, seolah keruntuhan mereka adalah akibat takdir atau tekanan eksternal semata.

Padahal, jika dibedah secara kritis, sejarah menunjukkan hal yang jauh lebih tidak romantis: kedua kerajaan ini runtuh karena kesalahan internal yang sistematis dan berulang.

Majapahit dan Mataram bukan korban sejarah. Mereka adalah contoh klasik bagaimana kekuasaan besar gagal bertahan karena tidak mampu mengelola pemerintahannya sendiri.

Majapahit: Imperium Besar yang Dibangun di Atas Figur, Bukan Sistem

Majapahit sering disebut sebagai imperium terbesar Nusantara. Klaim ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya jujur. Wilayah Majapahit memang luas, namun kekuasaan Majapahit tidak terpusat secara nyata.

Ia lebih menyerupai jaringan politik dan ekonomi berbasis kesetiaan, upeti, dan kepentingan dagang, bukan kontrol administratif yang solid.

Selama masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada, sistem ini bekerja. Bukan karena sistemnya kuat, tetapi karena figur pemimpinnya ditakuti, disegani, dan tidak tergantikan. Ini adalah fondasi kekuasaan yang rapuh.

Negara yang bergantung pada satu atau dua tokoh besar sebenarnya sedang menunda kehancuran, bukan mencegahnya.

Ketika Gajah Mada wafat, Majapahit kehilangan lebih dari sekadar seorang pejabat. Kerajaan kehilangan pusat gravitasi kekuasaannya. Tidak ada institusi yang mampu mengambil alih peran tersebut, karena sejak awal Majapahit tidak pernah serius membangun institusi yang berdiri di atas individu.

Perang Saudara dan Ilusi Kejayaan Majapahit

Perang Paregreg bukan sekadar konflik keluarga kerajaan. Ia adalah tanda bahwa elit Majapahit gagal memahami skala kekuasaan yang mereka kelola. Energi kerajaan habis untuk konflik internal, sementara daerah-daerah vasal mulai menghitung ulang untung-rugi berada di bawah Majapahit.

Pada saat yang sama, pusat-pusat ekonomi baru di pesisir Jawa mulai berkembang. Perdagangan tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh istana. Majapahit terlambat menyadari bahwa kekuatan ekonomi telah bergeser, dan kerajaan ini tidak memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan diri.

Banyak narasi menyederhanakan runtuhnya Majapahit sebagai akibat “pergantian agama”. Majapahit runtuh karena kehilangan legitimasi politik dan ekonomi, bukan karena kalah oleh ideologi baru.

majapahit dan mataram
(Gambar: news.okezone.com)

Mataram Islam: Kekuatan Darat yang Terjebak dalam Absolutisme

Jika Majapahit lemah karena terlalu longgar, Mataram Islam justru jatuh karena terlalu terpusat. Di bawah Sultan Agung, Mataram adalah kekuatan darat yang luar biasa. Namun kekuatan ini dibangun di atas otoritas absolut raja, bukan pada sistem pemerintahan yang seimbang.

Dalam struktur Mataram, raja adalah pusat segalanya: politik, militer, agama, dan hukum. Selama raja kuat dan cerdas, negara berjalan. Masalahnya, tidak ada jaminan setiap raja akan kompeten.

Dan Mataram tidak menyiapkan mekanisme koreksi ketika kekuasaan jatuh ke tangan penguasa yang lemah atau manipulatif.

Kesalahan ini bukan kebetulan. Ini adalah konsekuensi logis dari negara yang menganggap stabilitas lebih penting daripada tata kelola.

VOC dan Kesalahan Strategis Mataram

Runtuhnya Mataram sering dikaitkan dengan kekuatan VOC. Namun narasi ini juga menyesatkan. VOC tidak mengalahkan Mataram lewat perang besar. VOC menang karena Mataram membuka pintu bagi mereka sendiri.

Elit Mataram menggunakan VOC sebagai alat untuk memenangkan konflik internal. Yang tidak mereka pahami adalah bahwa VOC tidak bermain dalam logika loyalitas, tetapi dalam logika kontrak dan keuntungan. Setiap perjanjian yang ditandatangani Mataram perlahan menggerogoti kedaulatan mereka sendiri.

Perjanjian Giyanti bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan simbol kegagalan elit Jawa membaca politik global. Mataram kalah bukan karena kurang berani, tetapi karena kurang cerdas dalam memahami dunia yang berubah.

Jika Majapahit dan Mataram Masih Berdiri Hari Ini: Analisis Realistis

Gagasan bahwa Majapahit atau Mataram akan menjadi negara superpower jika masih bertahan hingga kini adalah fantasi yang tidak kritis.

Tanpa reformasi mendasar, Majapahit modern kemungkinan besar akan menghadapi masalah separatisme, konflik pusat-daerah, dan krisis legitimasi. Imperium besar tanpa sistem kuat cenderung menjadi negara besar yang tidak efektif.

Sementara itu, Mataram modern mungkin lebih stabil, tetapi stabilitas itu datang dengan harga mahal. Sistem feodal yang kaku akan menghambat inovasi, mobilitas sosial, dan demokratisasi. Negara bisa bertahan, tetapi tertinggal.

Baca juga: Menelusuri Islamisasi Jawa, dari Majapahit ke Mataram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *