Jatengkita.id – Dalam sejarah sastra Jawa, era pemerintahan para raja Pakubuwono di Kasunanan Surakarta sering dipahami bukan sekadar sebagai periode politik, melainkan sebagai fase penting kebangkitan dan penguatan tradisi sastra.
Periode ini kerap disebut sebagai salah satu bentuk renaisans Sastra Jawa, yakni masa ketika produksi, kodifikasi, dan pengembangan karya sastra mencapai intensitas tinggi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas intelektualnya.
Namun, renaisans ini tidak berdiri netral. Ia lahir dari pertemuan antara kekuasaan keraton, tradisi intelektual, dan kebutuhan legitimasi budaya.
Konteks Historis dan Budaya
Era Pakubuwono berlangsung dalam situasi sosial-politik yang kompleks. Fragmentasi Mataram, intervensi kolonial Belanda, serta pergeseran pusat kekuasaan memaksa keraton Surakarta untuk mencari bentuk otoritas baru.
Di sinilah sastra memainkan peran strategis. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai alat stabilisasi budaya dan simbol kontinuitas tradisi Jawa.
Keraton menjadi pusat produksi pengetahuan. Para pujangga diberi ruang, status, dan perlindungan untuk menulis, menyalin, dan menafsir ulang teks-teks klasik. Aktivitas ini menciptakan ekosistem sastra yang relatif stabil di tengah gejolak politik.
Ciri-Ciri Renaisans Sastra Jawa Era Pakubuwono
Salah satu ciri utama renaisans sastra pada masa ini adalah kodifikasi dan standardisasi. Banyak karya lama disalin ulang, diperhalus bahasanya, dan disesuaikan dengan norma keraton.
Hal ini terlihat dalam pengembangan tembang macapat, suluk, serat piwulang, serta teks-teks filsafat Jawa yang sarat nilai etika dan spiritualitas.
Selain itu, terdapat kecenderungan reinterpretasi. Karya-karya sastra tidak hanya menyalin masa lalu, tetapi menafsirkannya ulang sesuai konteks zaman.
Nilai kepemimpinan, kesetiaan, laku hidup, dan harmoni kosmis menjadi tema dominan yang relevan dengan kebutuhan legitimasi raja sebagai pusat moral dan budaya.
Renaisans ini juga ditandai oleh peran sentral pujangga, seperti Yasadipura dan Ranggawarsita (terutama pada fase akhir). Mereka bukan sekadar penulis, melainkan intelektual istana yang menjembatani tradisi lama dengan realitas baru, termasuk pengaruh Islam dan kolonialisme.

Sastra sebagai Instrumen Kekuasaan
Perlu dicatat bahwa kebangkitan sastra ini tidak sepenuhnya lahir dari kebebasan intelektual. Sastra era Pakubuwono sangat terkait dengan patronase keraton.
Tema, gaya, dan pesan moral sering kali selaras dengan ideologi kekuasaan. Dengan kata lain, renaisans sastra ini juga berfungsi sebagai alat hegemoni budaya.
Namun, menyederhanakan sastra keraton sebagai propaganda semata juga tidak adil. Di balik keterikatannya pada kekuasaan, teks-teks sastra tersebut menyimpan refleksi mendalam tentang krisis zaman, kegelisahan eksistensial, dan kesadaran akan perubahan dunia. Ambiguitas inilah yang justru memperkaya nilai sastranya.
Penilaian Kritis
Sebagai sebuah renaisans, kebangkitan sastra era Pakubuwono berhasil menjaga kesinambungan tradisi Jawa di tengah tekanan eksternal. Ia menciptakan fondasi kuat bagi sastra tulis Jawa modern. Namun, keterbatasannya juga jelas.
Fokus yang terlalu kuat pada keraton menyebabkan suara di luar elit budaya kurang terwakili. Sastra rakyat dan ekspresi non-istana tidak mendapatkan ruang yang setara dalam historiografi sastra.
Meski demikian, nilai utama periode ini terletak pada kemampuannya mengarsipkan, menstrukturkan, dan mentransmisikan warisan intelektual Jawa hingga dapat dipelajari hari ini.
Renaisans sastra pada era Pakubuwono merupakan fenomena budaya yang kompleks. Ia bukan sekadar masa kejayaan sastra, tetapi juga cermin relasi antara kekuasaan, tradisi, dan intelektualitas.
Sebagai objek kajian, periode ini menuntut pembacaan yang kritis, yaitu menghargai kontribusinya tanpa menutup mata terhadap keterbatasannya.
Dengan demikian, sastra era Pakubuwono tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai dialog intelektual yang masih relevan untuk memahami dinamika budaya Jawa hingga kini.
Baca juga: Masjid Agung Keraton Surakarta: Harmoni Sejarah dan Kearifan Lokal






